Minggu, 19 Maret 2017

Softskill bahasa inggris

Nama : Abdul Syukur Kelas : 4EA26 NPM : 10213037 Head rush-inducing” Gorilla Super Tobacco becoming popular, police can’t arrest users
You may have heard of (or even tried) “Tembakau Super Cap Gorilla” (Gorilla Super Tobacco) that is all the rave lately. The police believe that the tobacco, which supposedly gives its smoker a head rush, is spreading throughout South Jakarta. Despite its alleged narcotics-like effects, the National Narcotics Agency (BNN) hasn’t placed the tobacco on their dangerous substances life As such, the police have no legal ground to arrest anyone consuming the great ape-themed tobacco. “We arrested one user of the Gorilla Super Tobacco, but after he did a urine test, it wasn’t proven that [the tobacco] contained THC or other chemicals. So he’s just being rehabilitated,” said Hando Wibowo, head of the Narcotics Unit at the South Jakarta Police, as quoted by Kompas yesterday. Despite not being listed as an illegal drug, Hando confirmed that the tobacco does indeed have narcotic-like effects. “The police have tested the tobacco and the effect was that it gave a head rush,” he said. Source:https://coconuts.co/jakarta/news/head-rush-inducing-gorilla-super-tobacco-becoming-popular-police-cant-arrest-users/

Minggu, 30 Oktober 2016

ETIKA DALAM PASAR KOMPETITIF

ETIKA DALAM PASAR KOMPETITIF


Pasar persaingan sempurna terjadi ketika jumlah produsen sangat banyak sekali dengan memproduksi produk yang sejenis dan mirip dengan jumlah konsumen yang banyak.
Pada pasar persaingan sempurna terdapat persaingan yang ketat karena setiap penjual dalam satu wilayah menjual barang dagangannya yang sifatnya homogen. Harga pada pasar persaingan sempurna relatif sama dengan para pesaing usaha lainnya. Konsumen tentu akan memilih produsen yang dinilai mampu memberikan kepuasan.

Adapun hal yang menjadi faktor kepuasan itu adalah tingkat pelayanan dan fasilitas-fasilitas penunjang.
Sifat-sifat pasar persaingan sempurna :          
1. Mudah untuk masuk dan keluar dari pasar
2. Sulit memperoleh keuntungan di atas rata-rata      
3. Barang yang dijual sejenis, serupa dan mirip satu sama lain          
4. Jumlah penjual dan pembeli banyak          
5. Posisi tawar konsumen kuat           
6. Penjual bersifat pengambil harga   
7. Harga ditentukan mekanisme pasar permintaan dan penawaran   
Ada dua etika yang harus di pegang oleh para pelaku pasar agar pasar selalu dalam kondisi ideal dan fairness, yaitu:           

        1. Adanya optimasi manfaat barang oleh pembeli dan penjual. Dapat diartikan sebagai pertemuan antara kebutuhan pembeli dengan penawaran barang oleh penjual. Bertemunya dua hal ini, menjadikan barang yang ditransaksikan membawa manfaat, dan menghilangkan kemubadziran dan kesia-siaan.      

       2. Pasar harus dalam kondisi ekuiblirium. Teori ekonomi mengenal ekuiblirium sebagai titik pertemuan antara demand dan supply. ekuiblirium diartikan sebagai titik pertemuan persamaan hak antara pembeli dan penjual. Hak yang seperti apa Hak pembeli untuk mendapatkan
 barang dan hak penjual untuk mendapatkan uang yang sepantasnya dari barang yang dijualnya. Dalam konteks hak ini, kewajiban-kewajiban masing-masing pihak harus terpenuhi terlebih dahulu, kewajiban bagi penjual untuk membuat produk yang berkualitas dan bermanfaat dan bagi pembeli untuk membayar uang yang sepantasnya sebagai pengganti harga barang yang dibelinya. 

Etika-etika bisnis harus dipegang dan diaplikasikan secara nyata oleh pelaku pasar. Selain itu, setiap negara telah mempersiapkan SDM yang berkualitas yang siap berkompetisi. Mereka bisa menjalin kemitraan guna meningkatkan jumlah produksi dan memenuhi satu sama lain sehingga konsumen akan tertarik untuk mengkonsumsi produk tersebut.

Sumber : http://indradesmanto93.blogspot.co.id/2015/11/etika-dalam-pasar-kompetitif.html

Kamis, 13 Oktober 2016

IMMORAL MANAJEMEN (SOFTSKILL)

Immoral manajemen merupakan tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen tipe ini pada umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan moralitas, baik dalam internal organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau kelompok mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai batu sandungan dalam menjalankan bisnisnya.

CONTOH KASUS :
contoh kasus immoral manajemen dalam etika bisnis adalah MLM. berikut contoh kasus nya :
perlu disadari bahwa tidak sedikit bisnis MLM dan affiliate marketing yang menjalankan penipuan pyramid (pyramid scheme,kadang disebut arisan berantai) yang sebetulnya merupakan bisnis illegal. Tipuan Piramid dijalankan dengan mewajibkan para member menyetor dana. Lalu untuk mendapatkan bonus, para member harus merekrut member (atau downline, nasabah, investor) lainnya, demikian seterusnya. Biasanya investasi ini tidak melibatkan penjualan produk. MLM legal dan tipuan piramid memiliki kemiripan dalam pelaksanaan bisnisnya sehingga masyarakat awam banyak yang tertipu.

Dengan banyaknya korban yang berjatuhan, tipuan pyramid menjadi bisnis terlarang di berbagai negara. Akan tetapi para penipu tetap mencari berbagai cara untuk menipu lebih banyak korban. Mereka menyamarkan bisnis tipuannya dengan rapi dalam bentuk aneka bisnis MLM ataupun affiliate marketing. Mereka menawarkan produk akan tetapi bisa berupa: 

1. Produk murah, tetapi sampah alias tidak bermanfaat (biasanya dalam bentuk software atau ebook).  Software atau ebook tersebut biasanya bersifat bombastis seperti: menjadikan website Anda seperti ATM, cara mudah untuk mendapatkan keuntungan online, cara cepat menjadi sukses dan kaya lewat bisnis online, cara mudah untuk sukses bisnis property, serta aneka software yang mereka klaim sangat bagus, tetapi pada dasarnya tidak laku dijual.  Susahnya lagi, Anda tidak bisa mencoba produk-produk tersebut sebelum membelinya

2. Produk mahal, tetapi tidak berkualitas. MLM yang menyamar dalam bentuk MLM resmi biasanya menjual produk mahal tetapi tidak fokus dalam penjualan produk. Mereka menawarkan produk, tetapi sebenarnya mereka mengincar uang calon member dengan menawarkan produk sampah yang mahal tersebut. Sekilas bonus sepertinya diperoleh dari penjualan produk. akan tetapi dengan harga yang sangat mahal sementara produknya biasa saja, perusahaan MLM jenis ini pada dasarnya menjalankan tipuan piramid.

Sebagaimana sudah terjadi dalam banyak kasus bisnis MLM dengan tipuan piramid, member yang mendaftar akan semakin berkurang dan uang yang masuk semakin sedikit sehingga tidak bisa membayar komisi untuk member / downline yang telah terlebih dahulu bergabung. Pada akhirnya, mereka yang ikut bisnis ini kebanyakan akan berakhir buruk, bukannya untung.

sumber :
http://iindahpermata94.blogspot.co.id/2015/12/contoh-kasus-imoral.html?m=1

Sabtu, 12 Desember 2015

CSR PT. ANGKASA PURA II PEDULI MASYARAKAT DAN RAMAH LINGKUNGAN (SOFTSKILL)




CSR PT. ANGKASA PURA II PEDULI MASYARAKAT DAN RAMAH LINGKUNGAN


CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu konsep atau tindakan yang dilakukan oleh perusahaan sebagai rasa tanggung jawab perusahaan terhadap social maupun lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada, seperti melakukan suatu kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan menjaga lingkungan, memberikan beasiswa untuk anak tidak mampu di daerah tersebut, dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk membangun desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada.

Sebagai program sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), PT Angkasa Pura II yang membawahi Bandara Halim Perdanakusuma berhasil membangun sebuah gedung serbaguna (aula) bagi masyarakat Kebon Pala dan renovasi Posyandu di wilayah sekitar Lanud Halim Perdanakusma.

Realisasi kepedulian sosial yang dinamakan Bina Lingkungan tersebut berupa peresmian bangunan aula dan renovasi Posyandu serta penandatanganan prasasti di Sekolah Dasar Negeri Kebon Pala 11 Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Selasa (9/9) oleh Direktur Keuangan Angkasa Pura II Dr Lorensius Manurung dan Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Sri Pulung D.,S.E., MMgt. Stud.

Dalam sambutannya Dr Lorensius Manurung, Direktur Keuangan Angkasa Pura II menyampaikan sebagai salah satu BUMN, PT Angkasa Pura II melaksanakan dua kegiatan sosial yaitu program kemitraan untuk membina usaha kecil dan menengah dan kedua Bina Lingkungan yaitu kegiatan sosial yang bertujuan membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan.  Kegiatan sosial yang dikemas dalam program “Sumbangsih untuk Negeri” yang telah dilakukan berupa bantuan ambulance untuk Rumah Sakit di sekitar Bandara Halim Perdanakusuma, bantuan sosial saat bencana banjir, pembangunan aula, renovasi Posyandu dan lainnya. Program yang akan dilakukan pembangunan toilet sekolah, pengadaan mobil pintar, bantuan buku untuk perpustakaan sekolah.

Sedangkan Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Sri Pulung D.,S.E., MMgt. Stud., menyampaikan sejak awal keberadaannya Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dirancang untuk kegiatan penerbangan bagi misi khusus militer dan keperluan keamanan tingkat tinggi bagi tamu dan pejabat tinggi negara. Selain itu, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma juga menjadi subsistem dari alat utama sistem kesenjataan dan menjadi bagian dari integrated national defence system. Hal ini telah dipahami oleh pihak bandara, sehingga apabila ada penerbangan VVIP maupun VIP serta kegiatan latihan, penerbangan reguler akan menyesuaikan dan memprioritaskan penerbangan di Lanud Halim Perdanakusuma.

Seiring dengan perkembangan usahanya yang sejak awal Januari 2014 mulai melaksanakan aktivitas penerbangan reguler, pihak Bandara Halim Perdanakusuma melaksanakan pula berbagai kegiatan sosial pada masyarakat. Program bina lingkungan yang berhasil dilaksanakan di wilayah Lanud Halim Perdanakusuma yaitu merenovasi bangunan Posyandu di RW 5 Kelurahan Halim Perdanakusuma.

“Untuk itu atas nama masyarakat dan Lanud Halim Perdanakusuma, kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas renovasi bangunan Posyandu tersebut,”ujar Danlanud.

Rangkaian acara peresmian bangunan aula dan renovasi Posyandu meliputi penampilan drumband dan tari-tarian anak-anak SDN Kebon Pala sebelum pengguntingan pita bangunan aula baru, pengguntingan pita aula baru oleh Direktur Keuangan Angkasa Pura II, kegiatan di ruangan aula baru meliputi sambutan beberapa pejabat, penandatanganan prasasti, penyerahan maket bangunan, foto bersama, penampilan seni tari, nyanyi dan puisi anak-anak SD dan ramah- tamah.

Turut hadir Iwan Krishadianto General Manager Bandara Halim Perdanakusuma, Drs H. Ibnu Hajar, M.M Asisten Kesejahteraan Masyarakat Kotamadya Jakarta Timur, pejabat Kecamatan Makasar dan Kelurahan, Kepala Sekolah SDN Kebon Pala 11 dan lainnya.


Referensi :

HUBUNGAN ANTARA PENGEMIS, PENGAMEN, PENGANGGURAN DENGAN EKONOMI (SOFTSKILL)

HUBUNGAN ANTARA PENGEMIS, PENGAMEN, PENGANGGURAN DENGAN EKONOMI
Pengemis adalah orang-orang yang kerjanya suka minta-minta kepada orang lain guna memenuhi kebutuhannya.
Ada 3 kelompok pengemis, antara lain :
1. Mengemis karena tak mampu bekerja
2. Mengemis karena malas bekerja
3. Mengemis karena menginginkan jabatan.
Pengamen atau sering disebut pula sebagai penyanyi jalanan (Inggris: street singers), sementara musik-musik yang dimainkan umumnya disebut sebagai Musik Jalanan. Pengertian antara musik jalanan dengan penyanyi jalanan secara terminologi tidaklah sederhana, karena musik jalanan dan penyanyi jalanan masing-masing mempunyai disiplin dan pengertian yang spesifik bahkan dapat dikatakan suatu bentuk dari sebuah warna musik yang berkembang di dunia kesenian.
Pengangguran adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi maksimal yaitu masalah pokok makro ekonomi yang paling utama.
Pengangguran di Indonesia terjadi disebabkan antara lain yaitu karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari pencari kerja. Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja. Selain itu juga karena efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja disebabkan antara lain; perusahaan menutup atau mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif, peraturan yang menghambat investasi, hambatan dalam proses ekspor impor.
Selain itu juga pengangguran disebabkan oleh krisis moneter yang melanda di Indonesia dan tentunya secara keseluruhan wilayah Indonesia terkena dampak tersebut. Banyak industri padat karya yang terus menerus terpuruk seperti tekstil, sepatu, perkayuan, elektronik, sehingga hal ini menyebabkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang semakin marak.Belum lagi terdapat dampak dari bencana alam yang melanda hampir diseluruh Indonesia, termasuk di kabupaten Malang. Menurut data dari STIJN Claessen, who Controls East Asian Corporation, tahun 1999 prosentase control pemilik perusahaan public tertbesar 71,5 % dipegang oleh keluarga bisnis, sementara pemerintah hanya sebesar 8,2 % dan masyarakat memegang 5,1 %. Sangat terlihat jauh masyarakat tidak akan pernah mampu untuk berperan lebih jauh dalam pengembangan ekonomi bahkan pemerintahpun juga disetir oleh kelompok pemilik modal.
Usaha Mengurangi Kemiskinan dan Pengangguran di Indonesia
  1. Menyelidiki siapa saja orang yang miskin dan tidak bekerja
  2. Melaksanakan penyuluhan
  3. Mengadakan pembinaan rohani yang kuat dan berkelanjutan
  4. Mengajarkan pada orang-orang terdekat untuk tidak terlalu memanjakan dan selalu memberi pada orang miskin dan pengangguran
  5. Menjelaskan tentang penggunaan harta dari sisi kesehatan, moral, dan sebagainya
Masalah kemiskinan dan pengangguran tidak bisa diatasi dengan berdiam diri saja. Perlu berdoa memohon pertolongan Tuhan, perjuangan yang gigih dari pemerintah, kerjasama yang baik dari seluruh masyarakat, dan semangat juang dari masing-masing pribadi dalam menanggulangi masalah tersebut.
Banyak program yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah perekonomian yakni mengenai masalah kemiskinan dan pengangguran namun pada kenyataannya hasil yang dicapai tidak sesuai yang diharapkan.
Kemudian banyak pengangguran yang ada di Indonesia karena kurangnya lapangan pekerjaan yang ada dan ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia yang menyebabkan bertambahnya kemiskinan di Indonesia.
Pembangunan di bidang ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah pada dewasa ini di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, industri dan pertambangan, hakekatnya ditujukan selain untuk mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi, juga dimaksudkan untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan.
Dampak pengangguran terhadap perekonomian suatu Negara tujuan akhir pembangunan ekonomi suatu Negara pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakatdan pertumbuhan ekonomi agar stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran disuatu Negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan.
Sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/

PENGANGGURAN (SOFTSKILL)

Penyebab Pengangguran – Pengangguran atau dengan kata lain tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomiankarena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Seorang pengamat tenaga kerja dari Serang Darlaini Nasution SE mengatakan, ada tiga faktor mendasar yang menjadi penyebab masih tingginya tingkat pengangguran di Indonesia, termasuk di provinsi Banten.
Ketiga faktor tersebut adalah, ketidaksesuaian antara hasil yang dicapai antara pendidikan dengan lapangan kerja, ketidakseimbangan demand (permintaan) dan supply (penawaran) dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan masih rendah, kata Darlaini.
Ia menjelaskan, lapangan pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja umumnya tidak sesuai dengan tingkat pendidikan atau ketrampilan yang dimiliki.
“Umumnya perusahaan atau penyedia lapangan kerja membutuhkan tenaga yang siap pakai, artinya sesuai dengan pendidikan dan ketrampilannya, namun dalam kenyataan tidak banyak tenaga kerja yang siap pakai tersebut. Justru yang banyak adalah tenaga kerja yang tidak sesuai dengan job yang disediakan,” katanya.
Dosen di Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta) ini juga mengatakan bahwa pengangguran masih tinggi karena permintaan kerja sangat sedikit dibandingkan tenaga kerja yang tersedia.
Penyebab lain adalah kualitas SDM itu sendiri yang tidak sesuai dengan yang diharapkan di lapangan, antara lain dikarenakan penciptaan SDM oleh perguruan tinggi yang belum memadai, atau belum mencapai standar yang ditetapkan.
SDM yang tidak memadai ini bisa disebabkan kurikulum perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan industri, dan juga anggaran yang disediakan pemerintah untuk sektor pendidikan yang masih rendah sehingga yang dihasilkanpun tidak mencapai ‘buah’ yang maksimal.
Mensiasati untuk meminimalisasikan pengangguran di Indonesia, Pembantu Dekan I di Fakultas Ekonomi Untirta ini mengatakan, para pendidik di perguruan tinggi jangan lagi berorientasi pada penciptaan tenaga kerja, tetapi harus diarahkan penciptaan terhadap lapangan kerja atau kewirausahawan.
Di Untirta, kata Darlaini, telah dibentuk ‘Enterprenuer University’ atau Universitas kewirausahawan, sebagai antisipasi untuk membawa mahasiswa yang tidak lagi berorientasi pada mencari kerja, tetapi diarahkan untuk dapat menjadi pencipta usaha.
“Kita berharap mahasiswa tersebut jika telah lulus dapat mandiri dengan membuka usaha sendiri sesuai dengan ilmu yang diperolehnya. Bukan lagi tamatan universitas pencari kerja, tetapi pencipta kerja,” kata Darlaini seraya menambahkan walaupun tidak mudah karena butuh modal dan keberanian mengambil resiko, tetapi cara tersebut diperlukan dalam masa sulit mencari pekerjaan seperti saat ini
 
sumber: http://duniabaca.com/faktor-penyebab-pengangguran.html